Aspek Perkembangan Individu Sebagai Peserta Didik

AsikBelajar.Com | Perkembangan-perkembangan dasar atau esensi dari lingkungan belajar-mengajar yang sehat adalah suasana belajar yang secara nyata dapat menumbuhkan munculnya perasaan yang terdapat antara siswa dan guru di dalam kelas. Perasaan-perasaan yang mendasari transaksi belajar mengajar tersebut tergantung pada peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang kondusif. Peran tersebut berangkat dari pemikiran bahwa esensi situasi belajar yang kondusif dan sehat adalah situasi belajar yang dapat menumbuhkan ”perasaan dekat” antara guru dan anak, merasa saling membutuhkan, saling menghargai, dan sebagainya. Dengan perasaan saling memperhatikan yang terdapat antara guru dan anak dalam proses belajar mengajar, sikap guru yang merupakan cerminan perasaan yang melandasi transaksi belajar mengajar diantaranya adalah:
1) Penerimaan(acceptance): Sikap ini meliputi pengenalan dan pengakuan terhadap berbagai kemampuan dan keterbatasan mental, emosional, flsik, dan sosial yang dimiliki anak. Sikap acceptance tersebut harus dilandasi pemahaman bahwa guru mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri berupa kemampuan mengajar dan kemampuan dalam menghadapi anak.Tanpa kepercayaan diri, guru tidak akan mampu bersikap menerima terhadap berbagai kekurangan dan permasalahan orang lain. Sebaliknya, guru yang lebih banyak menegakkan otoritas secara berlebihan dan selalu menuntut hal-hal yang sempurna dari peserta didiknya menunjukkan bahwa guru tersebut belum mencapai kematangan emosional dan rasa percaya diri.
2) Rasa Aman: Rasa aman dan disayangi merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu memperoleh pemenuhan sehingga dalam proses belajar mengajar diperlukan pula adanya rasa disayangi dan diterima oleh kelompok dan guru. Jika anak dalam kegiatan pembelajaran merasa aman dan diterima sebagaimana adanya, akan membuat anak tersebut merasa aman dan kerasan selama proses pengajaran berlangsung dan termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan sungguh-sungguh. Hal tersebut dapat lebih ditingkatkan jika dosen selalu memberikan penghargaan dan umpan balik terhadap tugas-tugas mahasiswa.
3) Pemahaman akan adanya Individual (differences): Pemahaman pendidik bahwa tidak ada manusia yang sama serta perilaku mahasiswa selalu bersifat “unik” menjadikan diperlukan kesabaran dalam menghadapi berbagai perilaku anak. Guru hendaknya dapat secara bijak tahu kapan harus memperlakukan siswa sebagai anggota kelompok yang memang harus diperlakukan siswa sebagai individu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Hal yang terpenting adalah bahwa guru harus menjaga keseimbangan antara sikap otoritatif untuk mengarahkan perilaku anak dengan sikap ngemong dan pemberian kesempatan berkembang sesuai dengan berbagai situasi dan kondisi masing-masing.
a) Menggunakan cara-cara yang demokratis
Penggunaan cara yang demokratis dalam proses pembelajaran termanifestasi dalam perilaku saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, adanya perencanaan atau kontrak pembelajaran yang kooperatif atau berdasar pada kesepakatan serta pedelegasian wewenang dan tanggungjawab. Cara tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, di mana muncul keyakinan bahwa anak diberi kepercayaan untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan diberi pula kesempatan untuk melakukan pilihan-pilihan dengan pertimbangan pribadi (dengan mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan tersebut). Dalam proses belajar mengajar, anak hendaknya juga memperhitungkan suara siswa agar suasana kelas tidak menjadi kaku.
b) Sikap Bersahabat
Dengan dilandasi pemahaman terhadap berbagai kemampuan dan kekurangan yang ada pada anak, sikap percaya serta kesabaran dari guru sebagai pengajanakan memunculkan rasa “saling”, di mana guru sebagai pendidik selalu berusaha untuk mengomunikasikan apa yang diharapkan dari anak didik, memberikan arahan, bantuan, dan bimbingan agar harapan tersebut tercapai secara efektif dan efisien, termasuk memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan secara terbuka pemasalahannya sehingga akan tercapai kepuaéan antara dua belah pihak. Oleh karena itu, siswa akan sekuat tenaga memenuhi harapan tersebut.

Sumber:
Dra.Hj.Sitti Hartinah DS, MM. 2011. Pengembangan Peserta Didik. Bandung: PT Refika Aditama. Hal. 15-17.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *