Inspirational Motivation pada Kepemimpinan Transformasional

AsikBelajar.Com | Perilaku inspirational motivation merupakan salah satu dari perilaku pemimpin transformasional yang menginspirasi, memotivasi dan memodifikasi perilaku para komponen organisasi pendidikan untuk mencapai kemungkinan tak terbayangkan, mengajak komponen organisasi pendidikan memandang ancaman sebagai kesempatan untuk belajar dan berprestasi. Dengan demikian, pemimpin transformasional mencoba untuk mengindentifikasi segala fenomena yang ada dalam organisasi pendidikan dengan tubuh, pikiran, dan emosi yang luas. Perilaku ini diimplikasikan pada seluruh komponen organisasi pendidikan dengan cara yang bersifat inspirasional dengan ide-ide atau gagasan yang tinggi sebagai motivasi.

Oleh sebab itu, kepemimpinan transformasional bisa menciptakan sistem organisasi pendidikan yang menginspirasi dan memotivasi, salah satu perilaku yang demikian adalah bentuk tantangan bagi komponen organisasi pendidikan untuk mencapai standar yang lebih tinggi, atau pemimpin transformasional menciptakan budaya berani salah karena kesalahan adalah awal dari pengalaman belajar. Artinya, kedinamisan realitas organisasi pendidikan mampu diimbangi dengan gerakan konstruktif-solutif oleh pemimpin transformasional sendiri. Meminjam statement dari Bertrand Russel bahwa “it is better to be clearly wrong than Vaguely right”, maka sikap seperti itu seharusnya yang dibangun dalam tatanan kehidupan dalam lingkaran organisasi pendidikan dan sumber daya manusia itu sendiri untuk memunculkan suatu sikap optimistik-selektif dan juga untuk menumbuhkan spirit dalam mencari problem solving dalam menjawab tuntutan realitas terhadap organisasi pendidikan.

Sikap yang paling kentara dalam konteks ini adalah perilaku pemimpin transformasional yang mampu menjadi sumber inspirasi bagi komponen organisasi pendidikan untuk menjadi pemimpin atas diri mereka sendiri, menumbuhkan kepercayaan diri mereka dan memenangkan hati mereka. Dengan perilaku ini, pemimpin transformasional sebenarnya membangun kepemimpinan dalam diri komponen organisasi pendidikan iu sendiri dan hal ini bisa dicermati dengan pola pengembangan kepemimpinan ego sumber daya manusia dalam organisasi. Sebab kepemimpinan yang mempraktikkan tipe transformasional ini tidak hanya mengantungkan atau mengandalkan pada kharisma pribadinya, melainkan ia berupaya untuk memberdayakan staf dan membagi/mendistribusikan fungsi kepemimpinannya (Amrozi,  2009:41) dan menyampaikan visi organisasi pendidikan untuk diterjemahkan dalam program-program organisasi. Dengan demikian, pernyataan dari Afsaneh Nahavandi bahwa followers are inspired to implement the leader ‘s vision. The strong loyalty and respect that define a charismatic relationship pave the wayfor undertaking major change (Nahavandi,  2000:186), menjadi tesis yang sesuai dengan realita yang ada dalam organisasi pendidikan.

Sebenarnya kepemimpinan akan efektif bila pemimpin dapat memberi inspirasi kepada yang dipimpin untuk bekerja bersama-sama, bertindak mencapai tujuan organisasi dan di dalam melakukan hal itu yang dipimpin akan mengalami proses pengembangan kepemimpinan, sehingga kelak mereka pun akan dapat menjadi pemimpin (Wirjana, 2005:11). Perilaku yang demikian, menjadikan pemimpin ini pada sisi yang lain akan memberikan juga ruang otonomi untuk mengaktualisasikan potensi yang ada dalam diri komponen organisasi pendidikan. Dua hal tersebut yaitu proses penumbuhkembangan kepemimpinan pada diri sumber daya manusia organisasi pendidikan dan otonomisasi menjadi penghargaan yang luar biasa untuk merangsang produktivitas dan peningkatan kinerja komponen organisasi pendidikan.

Pada kerangka ini ada suatu pola pemikiran –baca postulat yang menyatakan bahwa pemimpin sejati tidak hanya diukur dengan kemampuannya dalam memimpin sebuah komunitas dan ia berhasil membawa kehidupan komunitas tersebut menjadi lebih baik; Pemimpin sejati juga perlu diukur dengan kemampuannya dalam membantu yang dipimpin untuk menjadi pemimpin-pemimpin baru yang transformasional dan sejati juga (Karim, 2010:72). Parameter yang demikian cukup jelas dalam melihat sisi kesuksesan pemimpin terutama pemimpin transformasional yang pada satu sisi perlu membawa perubahan dalam organisasi dan di sisi yang lain juga perlu mengangkat kemanusiaan komponen organisasi pendidikan.

Satu hal yang sangat fundamental untuk dilakukan oleh pemimpin transformasional adalah perilaku yang menjadikan sumber daya manusia yang dipimpin terinspirasi oleh setiap hal yang tumbuh dari dirinya. Inspirasi ini yang perlu digunakan sebagai pendekatan untuk memengaruhi dan menggerakkan komponen organisasi pendidikan, bukan dengan intimidasi dan perilaku otoriter sebagai pendorong utama roda organisasi pendidikan. Merancang kondisi untuk orang lain terinspirasi bukan suatu hal yang mudah, akan tetapi memerlukan ide besar dan menarik sebagai cantolan ide-ide komponen organisasi pendidikan; namun hal ini memerlukan juga kemampuan penyampaian yang menarik dengan bahasa yang elegan, dan tidak berbelit-belit. Oleh sebab itu, pemimpin transformasional dalam konteks ini sangat perlu untuk mempunyai cara berpikir yang baik, artikulasi kata-kata yang tepat, mampu menyederhanakan persoalan. Bahkan ia juga perlu untuk mempunyai kemampuan menentukan cara memandang persoalan tersebut dengan tepat dan benar serta kemampuan menyentuh substansi persoalan dan perasaan atau hati dari komponen organisasi pendidikan.

Kemampuan-kemampuan tersebut perlu juga disokong oleh sifatsifat pemimpin yang sangat urgen dalam melihat sosok dari pemimpin. Ada empat sifat umum yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yang terdiri dari: 1) Management of attention, yakni kemampuan mengomunikasikan tujuan atau arah yang dapat menarik perhatian anggota organisasi; 2) Managementofmeaning, yakni kemampuan menciptakan dan mengomunikasikan makna tujuan secara jelas dan dapat dipakai; 3) Management of trust, yakni kemampuan untuk dipercaya dan konsisten sehingga orang-orang akan memerhatikannya; dan 4) Management of self, yakni kemampuan untuk mengetahui, menguasai, dan mengendalikan diri sendiri dalam batas kekuatan dan kelemahan diri (Bahruddin dkk, 2012:210). Keempat sifat ini akan menunjukkan otensi kepemimpinan seseorang dalam organisasi pendidikan untuk mendorong ke arah yang lebih baik.

Salah satu perilaku yang muncul dari salah satu sifat pemimpin transformasional tersebut adalah pada aspek menginspirasi komponen organisasi pendidikan. Artinya, ia bisa menginspirasi kemungkinankemungkinan yang bisa diraih oleh karyawannya; ia juga tunjukkan potensi yang mereka miliki yang selama ini tidak pernah mereka sadari; bahkan ia juga bedah strateginya sedemikian rupa, sehingga siapa pun yang melihat strategi itu akan yakin, target tadi amatlah mungkin tercapai (Suryanto, 2007:81). Hal ini merupakan aspek dari sifat pemimpin yang muncul untuk membawa organisasi pendidikan pada perubahan yang sesuai dengan idealisme pemimpin itu sendiri dengan berlandaskan pada visi organisasi.

Perilaku kepemimpinan tersebut erat kaitannya dengan cara pemimpin itu sendiri dalam memotivasi bawahannya. Setiap orang pasti mempunyai motivasi, maka tugas pemimpin transformasional adalah mengarahkan motivasi tersebut menjadi hal yang berkontributif terhadap perbaikan dan perubahan organisasi pendidikan. Pemaknaan motivasi pada kerangka ini sebagaimana yang disampaikan oleh Michael Amstrong bahwa

a motive is a reasonfor doing something. Motivation is concerned with the factors that influence people to behave in certain ways. Motivating otherpeople is about getting them to move in the direction you want them to go in order to achieve a result (Amstrong, 2009:88).

Jadi dengan. motivasi ini, pemimpin dapat memengaruhi komponen Organisasi pendidikan mencapai tujuan organisasi atau dalam mencapai hasil yang telah ditentukan. Sebab pada kenyataannya, perilaku seseorang itu ditentukan oleh keinginannya untuk mencapai beberapa tujuan. Dengan demikian, motivasi merupakan pendorong agar seseorang itu melakukan Suatu kegiatan untuk mencapai tujuannya (Wahab, 2010:203).

Akan tetapi, di sisi yang lain, ada domain lain yang juga perlu dibentuk oleh pemimpin transformasional selain memotivasi pribadi. Pribadi komponen organisasi pendidikan yaitu pembentukan lingkungan Yang mampu memotivasi dan menginspirasi mereka. Pembentukan lingkungan yang mampu memengaruhi komponen organisasi pendidikan merupakan suatu domain dari kepemimpinan transformasional yang sangat membutuhkan kepekaan sosial terutama pada fenomena sosial, budaya, politik ataupun psikologis organisasi pendidikan; terlebih pada alur gerak perubahan lingkungan (Amstrong, 2009:183) yang sangat cepat seperti yang ada pada era teknologi ini. Konteks yang demikian, tidak menutup kemungkinan perlunya sosok pemimpin yang sangat memahami segala kebutuhan komponen organisasi pendidikan yang akan senantiasa berubah pula. Aspek pemahaman yang “lebih dalam” terhadap komponen organisasi pendidikan, pemimpin akan digampangkan untuk memotivasi mereka dalam meningkatkan performance kinerja.

Oleh sebab itu, pemimpin transformasional dalam memberikan motivasi dituntut mempunyai keterampilan menggunakan kata-kata yang dapat atau bisa membangkitkan semangat dan inspirasi segenap komponen organisasi pendidikan. Kata-kata atau slogan yang penuh semangat akan mengobarkan spirit mereka untuk mencipta dan membangun motivasi kerja dalam sistem nilai dan moral yang tinggi. Keadaan ini turut pula membingkai perilaku mereka pada kontinuitas yang kemudian menjadi suatu nilai dan norma mekanis selayaknya budaya organisasi; jika hal ini menjadi suatu tesis, maka perilaku inspirational motivation menjadi salah satu dari komponen kepemimpinan transformasional yang memperkuat temuan Ouchi tentang teori Z, yang menyatakan bahwa bukan strategi, struktur, dan sistem yang lebih banyak menentukan keberhasilan organisasi, melainkan budaya organisasi. Perubahan sikap dan perilaku merupakan bagian integral dengan budaya organisasi, dan perubahan sikap dan perilaku termotivasi dari sosok pemimpin yang mempunyai idealitas, visi yang kuat serta moral yang tinggi dengan penyampaian motivasi berupa penggunaan kalimat-kalimat yang menggugah semangat komponen organisasi pendidikan secara antusias dan optimistik.

Sedangkan simbol-simbol tertentu dalam organisasi pendidikan menjadi suatu domain pula yang dapat digunakan oleh pemimpin transformasional untuk membangkitkan semangat para komponen organisasi pendidikan. Simbol dalam organisasi pendidikan akan menjadi suatu “brand” yang dapat membedakan dengan organisasi lainnya; a brand is a word, mark, symbol or design that identifies a product or differentiates a company and its productfrom others (Karlof, 2005:57). Dua fungsi tersebut merupakan fungsi manifes yang akan tampak pada perilaku pemimpin terlebih pada implikasi yang akan muncul. Oleh sebab itu, pada komponen ini yaitu inspirational motivation perlu ada parameter yang jelas yaitu dengan mengukur sejauh mana seorang pemimpin mengomunikasikan sebuah visi yang menarik, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha bawahan, dan memodelkan perilaku-perilaku yang sesuai (Yukl, 2010:296). Oleh sebab itu, pemimpin transformasional perlu untuk memanfaatkan simbol-simbol tertentu untuk menggerakkan komponen organisasi pendidikan, sebab penggunaan simbol amat efektif untuk mengubah perilaku.

Penggunaan simbol-simbol tersebut oleh pemimpin transformasional bisa diterjemahkan dalam bentuk kemampuannya dalam menampilkan visi yang menggairahkan bagi komponen organisasi pendidikan. Mereka seakanakan dibuat tertantang untuk mewujudkan visi tersebut -ini merupakan kemampuan konkret dari pemimpin transforrnasional dalam hubungannya dengan inspirational motivation, sehingga komponen organisasi pendidikan termotivasi untuk melakukan berbagai hal untuk mewujudkan visi tersebut. Pada tataran ini pula pemimpin transformasional berani tampil untuk mengumumkan visi yang menantang pada khalayak ramai. Terlebih lagi jika visi itu dipadu dengan teknik lain dari kepemimpinan transformasional akan lebih mudah dicapai (Suryanto, 2009:102). Pada kerangka dapat diidentifikasi bahwa ciri dominan dari kepemimpinan transformasional, di antaranya: 1) Memiliki sensitivitas terhadap pengembangan organisasi; 2) Mengembangkan Visi bersama antarkomunitas organisasi; 3) Mendistribusikan peran kepemimpinan; 4) Mengembangkan kultur lembaga pendidikan; dan 5) Melakukan usaha-usaha merestrukturisasi di lembaga pendidikan (Danim dkk, 2009:53).

Menantang komponen organisasi pendidikan untuk mencapai standar lebih tinggi dari sebelumnya atau satu tingkat lebih tinggi merupakan bentuk dari perilaku pemimpin transformasional yang menerobos pada relung status quo organisasi. Upaya semacam ini akan menuntut kerja keras dan cara-cara baru serta segar untuk mewujudkan atau minimal meraih level sama dengan standar dari hasil yang diidealkan. Spirit ini yang kemudian mendorong pemimpin transformasional mengajak dan memobilisasi komponen organisasi pendidikan untuk berpikir dengan cara baru, memanfaatkan imajinasi, menggunakan berbagai metode dan sebagainya dalam mencapai hal tersebut. Hal ini yang membedakan pemimpin transformasional dengan pemimpin lainnya; kepemimpinannya muncul dari keindahan jiwanya (inner beauty of spiritual human being) yang telah menemukan keyakinan dasar (core belief) dan nilai-nilai dasar (core values) sebagai pegangan hidupnya, serta telah menetapkan visi dan misi hidupnya.

Tuntutan standar yang lebih tinggi tersebut amat diperhatikan oleh pemimpin transformasional. Oleh karena itu, ia juga menuntut naiknya standawstandar kinerja karyawan yang lebih tinggi. Ia membangkitkan semangat karyawan untuk mencapai standar itu. Caranya dengan membandingkan, menceritakan keberhasilan-keberhasilan lembaga lainnya yang sukses melakukan layanan dengan standar yang lebih tinggi (Suryanto, 2009:108). Strategi-strategi yang lain adalah dengan melakukan pembenahan atau rekonstruksi pada paradigma komponen organisasi pendidikan menuju paradigma “manusia pembelajar”. Dari proses ini, kepemimpinan transformasional juga menjelma menjadi sosok -meminjam istilah dari Tobroni-pemimpin entepreneurship yang senantiasa menciptakan kreasi-kreasi baru dalam gaya kepemimpinan maupun dalam bidang kepemimpinannya. Kreasikreasi itu mampu memberikan nilai tambah baik yang bersifat material maupun non material (Toroni, 2005:185).

Di sisi yang lain, dalam memberi motivasi dan inspirasi bagi komponen organisasi pendidikan, pemimpin transformasional juga perlu pandai bermain dengan kiasan-kiasan kalimat atau bermain metafora. Metafora berarti penggunaan kata-kata, kalimat yang mewakili gambaran sesungguhnya yang ditujukan untuk memudahkan pemahaman. Metafora bisa dijadikan sebagai medium dalam meningkatkan motivasi serta memberikan inspirasi bagi komponen organisasi pendidikan dengan landasan kalimat atau kata yang tersusun mengadung makna dan filosofis yang mendalam. Artinya, kalimat yang berisi makna tersebut tidak mengandung pola interpretasi yang sulit, sukar dan multitafsir. Pemimpin transformasional pada komponen ini lebih banyak mengungkapkan metafora yang mempunyai kedalaman makna yang diambil dari fenomena lingkungan -baca alam semesta yang dipadu dengan gaya bahasa yang memukau. Namun, metafora yang dimaikan merupakan metafora yang khas dengan kehidupan dari komponen organisasi pendidikan.

Apalagi di dalam menghadapi komponen organisasi pendidikan yang pasif, imitatif terhadap cara atau metode orang lain. Memang pada kenyataannya, cara komponen organisasi pendidikan dalam bekerja akan mencari jalan yang paling mudah, aman, dan cepat; apalagi di saat komponen organisasi pendidikan lainnya sukses mengeijakan tugas dengan cara dan metodenya, maka ia akan menirunya secara taken for granted. Bahkan tragisnya lagi adalah di saat lembaga lainnya sukses dengan cara tertentu, maka mereka pun akan menirunya. Keadaan ini yang kemudian perlu disikapi oleh pemimpin transformasional dengan cara dirinya menjadi mentor bagi komponen organisasi pendidikan semacam ini, ia harus memberikan pemahaman dan cara pandang yang baru, benar, dan tepat. Dengan demikian, tugas menjadi mentor ini merupakan bentuk dari aktivitas berpikir, pemimpin transformasional like or dislike perlu untuk lebih pandai, lebih luas pengetahuannya dan juga lebih wisdom dalam memotivasi dan menginspirasi menjadi manusia yang kreatif, inovatif dan berdayaguna terhadap organisasi.

Kondisi yang demikian, menuntut pihak pemimpin transformasional untuk bisa mentransformasi keadaan yang pasif, stagnan, dan dependen menjadi sesuatu yang aktif, berjalan, dan inovatif. Keterampilan menyampaikan visi dan berdiplomasi dengan metafora-metafora yang hangat dan memiliki makna yang mendalam menjadi medium yang urgen untuk memasuki relung komponen organisasi pendidikan dengan tujuan peningkatan motivasi kerja, performance dan sebagai sumber inspirasi. Artinya, kehadiran pemimpin transformasional dalam keadaan yang demikian menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan; atau dalam bahasa yang lain, menghadirkan diri pada saat-saat yang sulit dalam organisasi pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi seluruh komponen organisasi. Perilaku yang demikian secara tidak langsung menjadi motivasi bagi komponen organisasi pendidikan dalam suasana yang vakum. Oleh sebab itu, perilaku yang demikian juga merupakan perilaku kepemimpinan transformasional yang bias mentransformasi keadaan stagnan menjadi suasana yang inovatif dan efektif.

Adalah kepekaan pemimpin transformasional pada keadaan yang demikian menjadi kunci utama. Dengan kepekaan itu, pemimpin akan tahu betul kondisi para komponen organisasi pendidikan, sehingga ia bisa menghadirkan diri pada saat mereka membutuhkan berbagai hal seperti bantuan, bimbingan, perlindungan, arahan, dan sebagainya. Sebab ketika para komponen organisasi pendidikan sedang mengalami kebingungan, kekacauan, dan ketidakpastian, mereka akan mengalami masa chaos yang tidak ada pegangan sebagai patokan pasti dalam organisasi. Oleh karena itu. mereka sangat membutuhkan dibimbing oleh pemimpin transformasional yang mempunyai visi kuat dengan idealisme yang tinggi dengan memberikan mengajak mereka ke arah nilai dan moral yang tinggi. Pemimpin seperti ini Yang menjadi salah satu dari ciri kepemimpinan masa depan yang mampU memberikan solusi untuk kemajuan organisasi pendidikan.

Sumber:
Setiawan, Bahar A. dkk. 2013. Transformasional Leadership (Ilustrasi di Bidang Organisasi Pendidikan). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Hal.162-170.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *