Kekeliruan yang Terjadi dalam Pengujian Hipotesis Menurut Arikunto

By |

AsikBelajar.Com | Telah berkali-kali disebutkan bahwa perumusan hipotesis dilakukan secara hati-hati setelah peneliti memperoleh bahan yang lengkap berdasarkan landasan teori yang kuat. Namun demikian rumusan hipotesis tidak selamanya benar.

Benar dan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti dan tidaknya hipotesis tersebut. Mungkin seorang peneliti merumuskan hipotesis yang isinya benar, tetapi setelah data terkumpul dan dianalisis ternyata bahwa hipotesis tersebut ditolak, atau tidak terbukti. Sebaliknya mungkin seorang peneliti merumuskan sebuah hipotesis yang salah, tetapi setelah dicocokkan dengan datanya, hipotesis yang salah tersebut terbukti, Keadaan ini akan berbahaya, apabila mengenai hipotesis tentang sesuatu yang berbahaya.

Contoh: Belajar tidak mempengaruhi prestasi. Dari data yang terkumpul, memang ternyata anak-anak yang tidak belajar dapat lulus. Maka ditarik kesimpulan bahwa hipotesis tersebut terbukti.

Tentu saja kesimpulan ini salah menurut norma umum. Pembuktian hipotesis mungkin benar. Akibatnya bisa berbahaya apabila disimpulkan oleh siswa atau mahasiswa bahwa tidak ada gunanya mereka belajar. Yang salah adalah perumusan hipotesisnya. Dalam hal lain dapat terjadi perumusan hipotesisnya benar tetapi ada kesalahan dalam penarikan kesimpulan. Apabila terjadi hal yang demikian kita tidak boleh menyalahkan hipotesisnya.

Kesalahan penarikan kesimpulan tersebut barangkali disebabkan karena kesalahan sampel, kesalahan perhitungan ada pada variabel lain yang mengubah hubungan antara variabel belajar dan variabel prestasi yang pada saat pengujian hipotesis ikut berperan.

Misalnya: Faktor untung-untungan, faktor soal tes yang sudah bocor, faktor menyontek, dan sebagainya.

Untuk memperjelas keterangan, berikut ini disampaikan matriks macam kekeliruan ketika membuat kesimpulan tentang hipotesis pada umumnya.

Kesalahan dalam hipotesis

Selanjutnya ditentukan bahwa probabilitas melakukan kekeliruan macam l dinyatakan dengan a (alpha), sedangkan melakukan kekeliruan macam ll dinyatakan dengan [3 (beta). Nama-nama ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis kesalahan.

Misalnya: peneliti menetapkan kesalahan a = 1% berarti bahwa jika kita menerapkan kesimpulan penelitian kita, akan ada penyimpangan sebanyak1°/o. Besarkecilnya risiko kesalahan kesimpulan ini tergantung dari keberanian peneliti, atau kesediaan peneliti mengalami kesalahan tipe I.

Kesalahan tipe 1 ini disebut taraf signifikasi pengetesan, artinya kesediaan yang berwujud besarnya probabilitas jika hasil penelitian terhadap sampel akan diterapkan pada populasi. Besarnya taraf signifikansi ini pada umumnya sudah diterapkan terlebih dahulu misalnya 0,15; 0,5; 0,01, dan sebagainya.

Pada umumnya untuk penelitian-penelitian di bidang ilmu pendidikan digunakan taraf signifikansi 0,05 atau 0,01 , sedangkan untuk peneliti obat-obatan yang risikonya menyangkut jiwa manusia, diambil 0,005 atau 0,001 , bahkan mungkin 0,0001.

Apabila peneliti menolak hipotesis atas dasar taraf signifikansi 5% berarti sama dengan menolak hipotesis atas dasar taraf kepercayaan 95%, artinya apabila kesimpulan tersebut diterapkan pada populasi yang terdiri dari 100 orang, akan cocok untuk 95 orang dan bagi 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.

Sumber:
Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 114-115.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *