Kendala Faktor Instruktur Saat Pelatihan UKM

AsikBelajar.Com | Kendala Faktor Instruktur pelatihan saat pelaksanaan UKM adalah karena:

1. Gaya bahasa tinggi
Sangat banyak yang menjadi instruktur pelatihan bagi para pengusaha kecil diambil dari kalangan akademisi terutama dosen. Para dosen sudah terbiasa berkomunikasi dengan menggunakan gaya bahasa tinggi bahkan menggunakan bahasa asing dengan sesama dosen dan mahasiswa. Hal tersebut merupakan hal yang layak di kalangan akademisi.

Masalah akan tintbul jika gaya bahasa mereka terbawa saat menjadi instruktur pelatihan bagi para pengusaha kecil. Sebagaimana kita ketahui bahwa banyak pengusaha kecil di Indonesia tidak memiliki tingkat pendidikan tinggi sehingga sulit bagi mereka untuk memahami penjelasan dari instruktur pelatihan jika instruktur tersebut cenderung menggunakan gaya bahasa yang tidak umum di kalangan pengusaha kecil.

Contoh:
Instruktur pelatihan tentang pembukuan sederhana bagi usaha kecil sering menggunakan istilah depreciation expense untuk menggantikan istilah penyusutan. Saat instruktur menggunakan istilah bahasa Indonesia saja yaitu penyusutan sangat banyak pengusaha kecil yang tidak memahami maksudnya, apalagi jika menggunakan bahasa Inggris. Padahal banyak peserta pelatihan yang merasa malu dan enggan bertanya walaupun tidak memahami materi yang sedang dibahas.

2. Berbicara terlalu cepat
Tidak jarang para instruktur pelatihan bagi pengusaha kecil yang berbicara terlalu cepat. Mereka juga sering beralih dari suatu pokok bahasan ke pokok bahasan lainnya dengan cepat juga. Pada kondisi demikian agak sulit bagi para peserta pelatihan untuk mengikuti alur berpikir instruktur yang dirasakannya terlalu cepat.

Untuk pokok bahasan tertentu antara satu materi dengan materi lainnya merupakan rangkaian yang berproses. Jadi jika para peserta pelatihan tidak memahami materi sebelumnya maka akan sulit untuk memahami materi selanjutnya. Jika hal ini terjadi berarti program pembinaan pengusaha kecil melalui pelatihan tersebut sudah dapat dianggap gagal.

3. Instruktur kurang berpengalaman
Semakin tinggi jam terbang seorang tenaga instruktur pelatihan pada umumnya memiliki tarif yang semakin tinggi pula. Karena berbagai alasan tidak jarang panitia penyelenggara pelatihan bagi para pengusaha kecil lebih memilih tenaga instruktur pelatihan yang masih kurang berpengalaman, dengan harapan honornya dapat ditekan sedemikian rupa.

Di sisi lain instruktur yang kurang berpengalaman tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan demikian para peserta tidak mendapatkan pengetahuan dan informasi yang memuaskan, sehingga motivasi peserta menjadi turun untuk mengikuti pelatihan tersebut pada kesempatan atau sesi berikutnya.

4. Wawasan usaha kurang
Sehubungan dengan instruktur banyak yang berasal dari kalangan akademisi maka tidak jarang wawasan bisnisnya kurang. Tipe instruktur yang hanya mengetahui teori tetapi tidak memahami bisnis secara riil, pada umumnya akan memberikan materi yang mengambang dan kurang sesuai dengan kebutuhan peserta. Permasalahan yang dimiliki oleh setiap peserta pelatihan yang mereka bawa dari perusahaannya masing-masing sangat diharapkan dapat diperoleh solusinya pada saat mengikuti pelatihan. Tetapi karena mereka tidak mendapatkan instruktur dengan wawasan bisnis yang memadai, akhirnya masalah tersebut dibawa pulang lagi ke perusahaan masing-masing saat pelatihan selesai.

5. Keterampilan atau skills kurang
Pelatihan dapat juga dilaksanakan bagi para pengusaha kecil untuk lebih meningkatkan keterampilan teknik. Pelatihan teknik umumnya ditopang dengan penggunaan alat tertentu seperti pelatihan pengoperasian komputer, mesin hitung, mesin jahit, alat press, mesin cetak, alat sablon, dan lain-lain. Pelatihan jenis ini tentunya sangat diperlukan instruktur yang menguasai penggunaan alat-alat atau mesin tersebut. Jika instruktur kurang menguasai, sementara ada di antara peserta yang lebih piawai, maka instruktur tersebut kadang menjadi bahan olok-olokan dari peserta saja.

6. Persepsi instruktur tentang peserta tidak tepat
Banyak instruktur yang melakukan pembinaan bagi para pengusaha kecil khususnya pada program pelatihan saja. Padahal pelatihan sebelumnya. Pada tahap sebelumnya akan diketahui karakteristik para pengusaha yang menjadi peserta pelatihan serta masalah yang dihadapi mereka. Sehubungan instruktur diberikan tugas tertentu oleh panitia pelatihan misalnya menyampaikan materi tentang pembukuan sederhana, maka persepsi instruktur tersebut sering beranggapan bahwa para peserta adalah utusan perusahaan yang sudah memiliki dasar-dasar pembukuan atau pencatatan. Kenyataannya sering bertolak belakang dengan persepsi instruktur karena peserta pelatihan memiliki karakteristik yang beragam.

7. Motivasi rendah
Bertugas sebagai instruktur pelatihan bagi pengusaha kecil tidak akan terlepas dari honor yang akan diterima setelah tugas dilaksanakan. Sehubungan dengan itu tidak sedikit instruktur yang berupaya melaksanakan tugasnya secara cepat. Dia tidak memperhatikan apa yang merupakan kebutuhan atau masalah yang sedang dihadapi oleh para peserta pelatihan. Yang penting bagi dia tugas sudah dilaksanakan walaupun tanpa persiapan apapun. Kualitas pelatihan tidak menjadi pemikiran baginya, yang penting honor. Kalau para instruktur sudah berhaluan seperti ini, segalanya diukur dengan uang maka pengusaha kecil bukan terbina melainkan binasa.

Sumber:
Suparyanto, R.W. 2012. Kewirausahaan: Konsep dan Realita pada Usaha Kecil. Bandung: Alfabeta. Hal.74-78

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *