Landasan Filsafat Penelitian Kombinasi

AsikBelajar.Com | Metode penelitian kombinasi adalah metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode kualitatif. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan penelitian dengan metode kombinasi (Met Kom), maka harus difahami terlebih dulu karakteristik kedua metode tersebut.

Seperti telah dikemukakan artikek lainnya, bahwa salah satu perbedaan antara metode penelitian kuantitatif dan metode kualitatif terletak pada landasan filsafat, atau aksioma dasar. Landasan filsafat terkait dengan pandangan terhadap realitas, gejala atau data. Metode kuantitatif berlandaskan pada lllsafat positivisme (positivism). Filsafat ini berpandangan bahwa, suatu gejala itu dapat dikelompokkan, dapat diamati, dapat diukur, bersifat sebab akibat, relatif tetap dan bebas nilai. Karena gejala dapat dikelompokkan, maka peneliti kuantitatif dapat memilih beberapa variabel dalam penelitiannya. Tingkat kesulitan penelitian kuantitatif dapat diukur dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya penelitian untuk S1 bisa dengan dua variabel independen satu dependen. Penelitian S2 lebih banyak dari itu, model hubungan variabel bisa berbentuk jalur yang dianalisis dengan analisis jalur (path analysis). Penelitian mahasiswa S3 variabel penelitiannya lebih banyak dari S2, misalnya dengan model hubungan variabel yang berbentuk Structural Equation Model (SEM), yang merupakan Pengembangan dari analisis jalur.

Karena gejala dapat diamati, dan diukur maka peneliti dalam melakukan pengamatan menggunakan alat ukur (instrumen) yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Karena gejala bersifat sebab akibat, maka peneliti dalam melakukan penelitiannya, selain mendeskripsikan nilai variabel yang diamati, juga melakukan penelitian yang bersifat sebab akibat, mencari pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sehingga judul penelitiannya dengan mengg unakan kata “pengaruh, kontribusi, faktor determinan”.

Penelitian kuantitatif memandang bahwa, suatu gejala dianggap relatif tetap, tidak berubah dalam waktu tertentu. Dengan demikian hasil penelitian kuantitatif dapat dinyatakan valid dan reliabel dalam waktu yang relatif lama. Karena hasil penelitian berlaku untuk waktu yang relatif lama. maka peneliti kuantitatif dapat melakukan prediksi secara lebih akurat.

Peneliti kuantitatif dalam memandang gejala adalah bebas nilai. Bebas nilai adalah data yang diperoleh tidak dipengaruhi faktor subyektif peneliti dan sumber data. Hal ini terjadi karena antara peneliti dengan sumber data sering tidak berinteraksi. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data dengan kuesioner dan sampel yang diambil secara random, sehingga peneliti tidak ada kontak langsung dengan sumber data. Dengan demikian data yang diperoleh adalah data yang obyektif dan bebas nilai.

Metode kualitatif berlandaskan pada filsafat pospositivisme atau enterpretive. Filsafat ini berpandangan bahwa suatu gejala bersilat holistik, belum tentu dapat diamati dan diukur, hubungan gejala bersifat reciprocal, data bersifat dinamis dan terikat nilai. Gejala yang holistik adalah gejala yang menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan/ diklasifikasikan. Dengan demikian peneliti dalam melakukan penelitian, tidak meneliti hanya beberapa variabel saja, tetapi seluruh aspek yang ada pada obyek yang diteliti, atau oleh Spradley disebut “situasi sosial”. Situasi sosial meliputi, orang, tempat dan aktivitas orang tersebut dalam tempat itu.

Penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat enterpretif. karena dalam melihat gejala peneliti kualitatif harus menginterpretasikan terlebih dulu terhadap data yang ditemukan. Peneliti kualitatif tidak boleh “menelan mentah-mentah” dalam membuat kesimpulan terhadap gejala yang ditemukan, tetapi harus memberi interpretasi dan mengujinya melalui uji keabsahan data Sebagai contoh, peneliti melihat orang menangis jangan langsung disimpulkan bahwa, orang tersebut sedang mengalami kesedihan, tetapi harus dapat dipastikan, orang tersebut menangis disebabkan oleh apa, apakah karena sedang susah atau bahagia.

Penelitian kualitatif memandang tidak semua gejala dapat diamati dan diukur. Gejala yang mengandung makna tidak dapat diamati, tetapi dapat dirasakan. Makna adalah data di balik data yang tampak. Orang mancing ikan adalah data yang bisa mengandung makna. Kegiatan mancing tidak semata-mata mencari ikan tetapi mungkin untuk hiburan. Karena banyak data kualitatif yang mengandung makna, dan data tersebut bersifat kualitatif dan dinamis (tidak tetap), maka data tersebut sulit diukur. Karena data sulit diukur dengan instrument secara kuantitatif, maka peneliti kualitatif akan menjadi instrumen utama dalam penelitian.

Gejala dalam penelitian kualitatif tidak bersifat sebab-akibat (kausal), tetapi lebih bersifat reciprocal (saling mempengaruhi). sehingga penelitian kualitatif tidak ingin mencari pengaruh antar variabel, melalui pengujian hipotesis. tetapi ingin mengkonstruksikan gejala dalam satu model hubungan reciprocal. Dalam hubungan reciprocal tidak diketahui mana sebab dan akibat, karena semuanya berinteraksi. Penelitian kualitatif tidak menguji hipotesis, tetapi menemukan hipotesis.

Hasil penelitian kualitatif tidak akan bebas nilai, karena peneliti berinteraksi dengan sumber data. Karena terjadi interaksi, maka data yang diperoleh dalam penelitian akan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, keyakinan yang dimiliki oleh pemberi data dan pengumpul data. Karena peneliti kualitatif menjadi instrument utama dalam pengumpulan data, maka hasil penelitian kualitatif bersifat subyektif pada awalnya, dan akan menjadi obyektif setelah diuji melalui uji konfirmability.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan di sini bahwa landasan filsafat kedua metode penelitian tersebut sangat berbeda bahkan bertentangan, sehingga secara teoritis ke dua metode tersebut tidak dapat dikombinasikan untuk digunakan bersama-sama. Seperti dikemukakan oleh Thomas D. Cook and Charles Reichard (1978) “To the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can never be used together. Since the methods are linked to different Paradigms and since one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views, one must also choose between the methods type”. Kesimpulannya, metode kualitatif dan kuantitatif tidak akan pernah dipakai bersama-sama, karena kedua metode tersebut memiliki paradigma yang berbeda dan perbedaannya bersifat mutually exclusive, sehingga dalam penelitian hanya dapat memilih salah satu metode.

Susan Stainback, (1988) “Each methodology can be used to complement the other within the same area ofinquiry. since they have different purposes or aims”. Maksudnya bahwa setiap metode dapat digunakan untuk melengkapi metode lain, bila penelitian dilakukan pada lokasi yang sama, tetapi dengan maksud dan tujuan yang berbeda.

Sugiyono (2006) menyatakan bahwa, pertama, kedua metode tersebut dapat digabungkan tetapi digunakan secara bergantian. Pada tahap pertama menggunakan metode kualitatif. sehingga ditemukan hipotesis, selanjutnya hipotesis tersebut diuji dengan metode kuantitatif. Kedua metode penelitian tidak dapat digabungkan dalam waktu bersamaan, tetapi hanya teknik pengumpulan data yang dapat digabungkan. Misalnya penelitian kuantitatif dengan teknik pengumpulan data yang utama adalah kuesioner. Selanjutnya untuk mengecek dan memperbaiki kebenaran data dari kuesioner tersebut dilakukan pengumpulan data dengan teknik lain yaitu observasi dan wawancara.

Penggabungan antara filsafat metode kuantitatif (positivistik) dan mode kualitatif (pospositivistik/enterpretif) oleh Johnson dan Cristensen (2007) disebut filsafat pragmatik. Dalam hal ini dinyatakan “Starting in the 1990s, many researchers rejected the incompatibility thesis and started advocating the pragmating position that says that both quantitative and qualitative research are very important and often should be mixed in single research studies”. Mulai tahun 1990 an, beberapa peneliti menolak tesis yang menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif dan kuantitatif tidak dapat digabungkan, dan mulai mengembangkan pemikiran yang pragmatis, bahwa penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat dikombinasikan dalam satu kegiatan penelitian. “Pragmatism Philosophical position that what works is what is important or “valid” (Johnson & Cristensen, 2007)

Newman & Benz dalam Creswell (2009) menyatakan bahwa “Quantitative and Qualitative Approach are should not be viewed as polar opposites or dichotomy; instead they represent different ends on a continuum”. Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif tidak bisa dipandang sebagal dua metode penelitian yang bersifat dikotomi dan bertentangan satu dengan yang lain, tetapi merupakan suatu metode yang saling meleugkapi. Metode ini terletak dalam satu garis yang kontinum, pada ujung kiri metode kuantitatif, ujung kanan metode kualitatif (atau sebaliknya) dan di antara kedua adalah metode tersebut terletak penelitian kombinasi.

Metode kombinasi tidak harus di tengah-tengahnya, tetapi bisa, lebih berat ke kuantitatif atau ke kualitatif. Hal ini dapat digambarkan seperti gambar 19.1 berikut.


Melalui kajian kritis dan pengalaman praktik-praktik penggunaan berbagai metode penelitian lapangan, ternyata kedua metode penelitian tersebut dapat dikombinasikan atau digabungkan. Dengan mengkombinasikan kedua metode penelitian tersebut, maka metode penelitian kuantitatif dapat melengkapi kekurangan yang ada pada metode kualitatif dan metode kuantitatif. Namun dengan menggunakan metode kombinasi, proses penelitian memerlukan waktu yang relatif lama, dan peneliti harus memahami karakteristik masing-masing metode dan mampu mengkombinasikan untuk digunakan dalam suatu penelitian.

Creswell (2009) menyatakan bahwa “A Mixed methods design is useful when either the quantitative or qualitative approach by itself is inadequate to best understand a research problem or the strengths of both quantitative and qualitative research can provide the best understanding”. Metode penelitian kombinasi akan berguna bila metode kuantitatif atau metode kualitatif secara sendiri-sendiri tidak cukup akurat digunakan untuk memahami permasalahan penelitian atau dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi akan dapat memperoleh pemahaman yang paling baik (bila dibandingkan dengan satu metode).

Sumber:
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Hal. 397-401.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *