Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods): Arti, Filsafat & Macamnya

AsikBelajar.Com | Metode Penelitian Kombinasi, merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pragmatisme (gabungan positivisme dan pospositivisme). Menurut Creswell (2009), filsafat pragmatisme berpandangan bahwa:
a. Pragmatism not see the world as an absolute unity. In a similar way, mixed methods researcher look to many approaches for collecting and analyzing data rather than subscribing to only one way (e..g. quantitative or qualitative). Filsafat pragmatisme tidak memandang bahwa dunia itu bukan suatu kesatuan yang absolut. Dengan pandangan ini, peneliti kombinasi melihat dunia/realitas dari berbagai pendekatan dalam mengumpulkan dan menganalisis data, dan tidak hanya dengan satu macam pendekatan saja.
b. Pragmatism is not committed to any one system of philosophyand reality. This applies to mixed methods research in that inquires draw liberally from both quantitative and qualitative assumptions when they engage in their research. Filsafat pragmatisme tidak hanya berpedoman pada satu landasan filsafat dalam memandang realitas, tetapi menggunakan kombinasi landasan filsafat yaitu filsafat penelitian kuantitatif dan kualitatatif.
c. Pragmatism, as a worldview or philosophy arise out of actions situations, and consequences rather than antecedent condition (as in pospositivism). There is concern with applications-what worksand solutions to problems. Instead of focusing on methods, researchers emphasize the research problem and use all approaches available to understand the problem. Pragmatisme adalah suatu pandangan dasar, atau filsafat yang terkait dengan suatu tindakan, situasi dan akibat daripada sebab (seperti dalam filsafat positivisme). Pragmatisme terkait dengan suatu aplikasi bagaimana cara bekerja dan cara pemecahan masalah. Bila dikaitkan dengan metode, maka peneliti dapat menggunakan semua metode yang mungkin dapat digunakan untuk memahami masalah.
d. Thus for the mixed methods researcher, pragmatism opens the door to multiple method different worldviews, and different assumptions, as well as different form of data collection and analysis. Dengan demikian peneliti kombinasi memandang filsafat pragmatisme membuka pintu adanya berbagai metode penelitian, berbagai perbedaan dalam memandang dunia/realitas, dan berbagai perbedaan asumsi, sehingga dapat terjadi perbedaan dalam pengumpulan data dan analisis.

e. Individual researchers have a freedom of choice, in this way researchers are free to choose the methods, techniques, and procedures of research that best meet their needs and purpose. Peneliti secara individual mempunyai kebebasan untuk memilih metode yang akan digunakan untuk penelitian, dengan demikian para peneliti bebas memilih metode, teknik, dan prosedur yang terbaik untuk penelitian sehingga dapat mencapai maksud dan tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan di sini bahwa, filsafat pragmatisme itu memandang dunia/realitas itu tidak merupakan satu kesatuan yang absolut/mutlak, tidak hanya menggunakan satu sistem filsafat dalam memandang realitas. Dengan demikian situasi sosial itu bisa bersifat holistik (postpositivisme) tetapi bisa juga dapat diklasifikasikan (positivisme), suatu kondisi itu tidak harus natural/alamiah (postpositivisme) tetapi juga bisa ada perlakuan/ treatment (positivisme). Dengan situasi seperti itu, maka peneliti kombinasi dapat melakukan penelitian dengan metode kualitatif dan kuantitatif secara bersama-sama.

Dengan demikian metode penelitian kombinasi dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pragmatisme (kombinasi positivisme dan postpositivisme) digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah maupun buatan (laboratorium) dimana, peneliti bisa sebagai instrumen dan menggunakan instrumen untuk pengukuran, teknik pengumpulan data dapat menggunakan tes, kuesioner dan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif (kualitatif), dan deduktif (kuantitatif), serta hasil penelitian kombinasi bisa untuk memahami makna dari dan membuat generalisasi.

Secara pragmatis dan praktis metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan sebagai metode penelitian. Selama ini ada pemikiran bahwa, metode kuantitatif dan kualitatif tidak dapat digabungkan. Seperti dinyatakan oleh Thomas D. Cook and Charles Reichardt (1978) “To the conclusion that qualitative and quantitative methods themselves can never be used together. Since the methods are linked to different paradigms and since one must choose between mutually exclusive and antagonistic world views. one must also choose between the methods type”. Kesimpulannya, metode kualitatif dan kuantitatif tidak akan pernah dipakai bersama-sama, karena kedua metode tersebut memiliki paradigma yang berbeda dan perbedaannya bersifat mutually exclusive, sehingga dalam penelitian hanya dapat memilih salah satu metode.

Susan Stainback, (1988) “Each methodology can be used to complement the other within the same area of inquiry, since they have diferent purposes or aims”. Maksudnya bahwa setiap metode dapat digunakan untuk melengkapi metode lain, bila penelitian dilakukan pada lokasi yang sama, tetapi dengan maksud dan tujuan yang berbeda.

Metode penelitian ini mengkombinasikan atau menggabungkan antara metode penelitian kuantitatif dan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan obyektif.

Creswell (2009) menyatakan bahwa “Mixed Methods Research is an approach to inquiry that combines or associated both qualitative quantitative forms of research ” Metode kombinasi adalah merupakan pendekatan penelitian yang menggabungkan atau menghubungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Tashakkori and Creswell dalam Donna M. Mertens (2010): memberikan definisi metode kombinasi (mixed methods) sebagai berikut “research in which the investigator collects and analyzes data, integrates the findings, and draws in erence using both qualitative and quantitative approaches or methods in single study or program o inquiry” Hence, mixed methods can re er to the use 0 both qualitative and quantitative methods to answers research question in a single study” Penelitian kombinasi adalah merupakan penelitian, dimana peneliti mengumpulkan dan menganalisis data, mengintegrasikan temuan, dan menarik kesimpulan secara inferensial dengan menggunakan dua pendekatan atau metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam satu studi. Metode kombinasi digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pada satu proyek/kegiatan penelitian.

Selanjutnya Creswell (2009) menyatakan bahwa “A Mixed methods design is useful when either the quantitative or qualitative approach by itself is inadequate to best understand a research problem or the strengths of both quantitative and qualitative research can provide the best understanding”. Metode penelitian kombinasi akan berguna bila metode kuantitatif atau metode kualitatif secara sendiri-sendiri tidak cukup akurat digunakan untuk memahami permasalahan penelitian, atau dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara kombinasi akan dapat memperoleh pemahaman yang paling baik (bila dibandingkan dengan satu metode).

Seperti telah dikemukakan bahwa, metode penelitian kombinasi dapat dibagi menjadi dua yaitu desain/model sequential (kombinasi berurutan), dan model concurrent (kombinasi campuran). Model sequential (urutan) dapat dibagi menjadi dua yaitu model sequential explanatory (urutan pembuktian) dan sequential exploratory (urutan penemuan). Model concurrent (campuran) ada dua yaitu, model concurrent triangulation (campuran kuantitatif dan kualitatif secara berimbang) dan concurrent embedded (campuran kuantitatif dan kualitatif tidak berimbang).

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Hal. 12-16.

Keyword Terkait:
metode kombinasi dalam penelitian, pengertian metode kombinasi, metode kombinasi kuantitatif dan kualitatif

Baca Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *