Perubahan Iklim; Dampak Pertambangan Batubara di Indonesia

AsikBelajar.Com | Menurut Geoff (2010) pandangan sebagian besar ilmuwan iklim adalah bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan bahwa gas rumah kaca yang sudah dilepaskan akan terus berkontribusi lebih lanjut terhadap pemanasan global paling tidak sepanjang dekade mendatang. Mereka mendesak adanya langkahlangkah mitigasi yang tegas untuk memangkas timbulnya gas rumah kaca dan dengan demikian membatasi dampak negatif serius yang diramalkan. Sebagian besar pemerintah juga memberi komitmen mereka dalam perkataan dan dalam kesepakatan internasional sampai pada cara-cara guna meminimalkan tingkat dan memitigasi dampak perubahan iklim. Sejumlah pemerintah memberi komitmen, secara teori, terhadap tindakan-tindakan radikal untuk mengurangi output gas rumah kaca. Inggris, misalnya, belum lama ini mengadopsi target untuk pengurangan emisi karbon dioksida di Inggris sebesar 80% (dibandingkan dengan tingkat 1990) pada tahun 2050. Pengurangan sebesar itu dipandang perlu untuk mengatasi besarnya krisis. Pengurangan ini tidak dapat dicapai tanpa perubahan signifikan dalam sifat perekonomian dewasa ini. Ini tidak berarti bahwa tenaga kerja harus dikurangi, justru, kelompok-kelompok pengkampanye iklim secara khusus menganjurkan investasi dalam pekerjaan ‘hijau’ yang baru di negara-negara industri. Ini juga tak berarti harus mengurangi penggunaan energi secara besar-besaran-yang perlu dilakukan adalah melakukan perubahan dalam sumber energi yang diperlukan. Sejumlah ilmuwan berargumentasi bahwa 95% dari kebutuhan energi dunia dapat disediakan oleh sumber terbarukan pada tahun 2050.

Meskipun ada rasa skeptis yang meningkat di sejumlah bagian dunia, terdapat kesepakatan yang meluas di antara para ilmuwan iklim, bahwa gas-gas tertentu yang ada dalam atmosfer bumi, khususnya karbon dioksida, nitrus oksida, dan metana, menjerat panas dan berfungsi sebagai ‘gas rumah kaca’. Dikhawatirkan bahwa peningkatan konsentrasi atmosferik dari gas-gas tersebut yang diakibatkan oleh kegiatan manusia akan mengakibatkan naiknya suhu paling sedikit dua derajat dan mungkin, sampai enam derajat celsius dalam abad ini. Dampak pasti kenaikan suhu yang pesat itu sulit diramalkan tetapi diyakini bahwa akan mencakup kenaikan suhu yang semakin tinggi pada garis lintang yang lebih tinggi, khususnya di wilayah kutub; meningkatnya permukaan laut secara signifikan, yang menyebabkan banjir di daerah-daerah yang rendah; mencairnya bongkahan es, tanah beku abadi, dan glasier; dan perubahan dalam pola cuaca, termasuk lebih banyak musim kering, gelombang panas, serta badai yang semakin hebat dan mungkin di luar musim. Beberapa negara kepulauan yang terletak di daerah rendah di Samudra Pasifik dan Hindia merasa khawatir akan kelangsungan eksistensi mereka bahkan sekalipun jika peningkatan permukaan laut tidak terlalu tinggi. Banyak wilayah dataran rendah juga mungkin terimbas secara serius.

Sumber:
Fitrah, Hastirullah. 2018. Material Tanah Bekas Tambang Batubara & Pembenahan. Yogyakarta: Thema Publishing. Hal. 29-30.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *