Praktik Perencanaan Pendidikan

AsikBelajar.Com | Dalam praktiknya, sampai saat ini (2005), hampir semua kabupaten dan kota di Indonesia belum memiliki proyeksi pendidikan dari TK sampai SMU/SMK untuk lima tahun atau sepuluh tahun ke depan (2000-2005 atau 2000-2010 atau 2005-2010). Walaupun Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pendidikan setempat pernah mengirimkan stafnya ke Depdiknas Jakarta (2002) untuk mengikuti pelatihan perencanaan pendidikan termasuk proyeksi pendidikan.

Semua departemen pemerintah, provinsi, kabupaten dan kota mempunyai rencana strategis. Hampir semua provinsi, kabupaten, dan kota menjadikan peningkatan kualitas SDM sebagai salah satu prioritasnya. Akan tetapi, proyeksi SDM pendidikan lima tahun ke depan saja belum tentu dimiliki. Oleh sebab itu, renstra hanya sebagai kebijakan di atas kertas saja. Dalam pelaksanaannya banyak yang menyimpang dengan alasan-alasan tertentu.

Bangsa kita adalah bangsa yang senang berkumpul-kumpul dan kaya dengan perencanaan. Ketika berkumpul cenderung timbul semangat untuk membuat perencanaan. Dalam proses merencanakan kita semua biasanya sangat bersemangat, bahkan kadang-kadang rencana itu muluk-muluk, tidak sesuai dengan keadaan sehingga menjadi sangat tidak realistis. Namun, setelah mulai memasuki tahap pelaksanaan semangat yang menggebu-gebu tadi mulai menurun. Mungkin semua pikiran dan tenaga telah terkuras habis-habisan dalam tahap perencanaan sehingga dalam tahap melaksanakan sudah kehabisan tenaga dan semangat. Akibatnya, rencana tinggal rencana.

Sumber:
Usman, Husaini. 2011. Manajemen: Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Hal.142.

Keyword terkait:
perencanaan pendidikan di indonesia, perencanaan pendidikan nasional, perencanaan pendidikan menurut para ahli, perencanaan pendidikan di sekolah, perencanaan pendidikan dalam sistem pendidikan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *